Equity World | Wall Street stagnan setelah pejabat The Fed merilis pernyataan tentang virus corona

Equity World | Wall Street stagnan setelah pejabat The Fed merilis pernyataan tentang virus corona

Equity World | Wall Street bergerak mixed cenderung naik tipis pada awal perdagangan hari ini. Kamis (20/2) pukul 22.51 WIB, Dow Jones Industrial Average naik 0,02% ke 29.353.

Indeks S&P 500 menguat 0,02% ke 3.386. Sedangkan Nasdaq Composite flat dengan kecenderungan turun tipis 0,01%.

Meski laju kematian akibat virus corona melambat, masih ada kekhawatiran penyebaran virus ini di luar China. Jumlah kasus virus corona di Korea Selatan dan Jepang meningkat setelah adanya laporan dua korban meninggal.


Equity World

 

Terbesar Wall Street, Morgan Stanley Caplok E*Trade Rp 182 T | Equity World


Riset juga menunjukkan bahwa virus menyebar lebih cepat daripada prediksi awal. "Hingga kini masih ada ketidakpastian berapa lama penyebaran akan terjadi dan seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi, tidak hanya di China tapi seluruh dunia," kata Scott Brown, chief economist Raymond James kepada Reuters.

Investor pun masih menimbang komentar Wakil Gubernur Federal Reserve Richard Clarida yang mengungkapkan bahwa penyebaran virus corona tidak akan mengubah pendirian bank sentral soal suku bunga karena ekonomi Amerika Serikat (AS) masih kuat.

Equity World | Saham Asia Berjuang Didukung Oleh Pemangkasan Suku Bunga PBoC Di Tengah Kekhawatiran Virus Corona

Equity World | Saham Asia Berjuang Didukung Oleh Pemangkasan Suku Bunga PBoC Di Tengah Kekhawatiran Virus Corona

Equity World | Ketakutan akan virus Corona sekali lagi telah melemahkan optimisme pedagang saham Asia saat menjelang sesi Eropa pada hari ini. Alasannya dapat ditelusuri dari meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi dan meninggal dari Jepang dan Singapura sedangkan jumlah dari China mengejutkan karena metodologi direvisi kembali.

Yang juga menambah ketakutan pasar adalah komentar suram dari raksasa pemeringkat S&P dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva.

Saham Asia tak banyak memperhatikan penurunan suku bunga Bank Rakyat China (PBoC) serta tingkat pengangguran Aussie yang meningkatkan peluang penurunan suku bunga RBA.

Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik (selain-Jepang) menurun 0,60% sedangkan NIKKEI Jepang juga memangkas kenaikan di awal hari menjadi 28.480. Lebih lanjut, indeks China positif tetapi HANG SENG Hong Kong turun 0,60% menjadi 27.495 pada saat ini.

Benchmark ekuitas India gagal sedangkan IDX Indonesia Composite mencoba untuk tetap positif di sekitar 5.935 menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI). Selanjutnya, Saham di Australia dan Selandia Baru positif di belakang perkiraan penurunan suku bunga dari RBA, karena kekecewaan baru-baru ini dari data pekerjaan bulan Januari.


Equity World

 

Data Ekspor Jepang Topang Bursa Saham Asia | Equity World


Imbal hasil treasury AS 10-tahun juga gagal untuk tetap positif dan kehilangan lebih dari satu basis poin menjadi 1,559% sedangkan S&P 500 Futures tidak dapat mengikuti jejak tolok ukur Wall Street yang naik ke rekor tertinggi pada hari sebelumnya.

Selanjutnya, Bank Indonesia (BI) diharapkan mengumumkan penurunan suku bunga 25 basis poin (bp) tetapi mungkin gagal mengembalikan kepercayaan investor kecuali jika berita utama virus Corona mulai positif.

 

Equity World | 'Produk Turunan' Virus Corona Bawa Emas ke Atas US$ 1.600/oz

Equity World | 'Produk Turunan' Virus Corona Bawa Emas ke Atas US$ 1.600/oz

Equity World | Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/2/2020) setelah menembus ke atas US$ 1.600/troy ons Selasa kemarin. Logam mulia ini juga mencapai level penutupan tertinggi sejak Maret 2013.

Pada pukul 14:03 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.603,77/troy ons, menguat 0,13% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Penguatan harga emas dipicu "produk turunan" dari wabah virus Corona yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan menjangkiti lebih dari 75.000 orang di berbagai negara.

Dari sisi makro, "produk turunan" virus corona yakni risiko terjadinya resesi, sementara dari sisi mikro penurunan pendapatan perusahaan. Setidaknya ada tiga negara yang berisiko mengalami resesi, yakni Singapura, Jerman, dan Jepang. Ketiganya memiliki hubungan erat dengan China.

Pemerintah Singapura di awal pekan ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Mengutip Reuters, Singapura memprediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2020 ada di kisaran -0,5%-1,5%. Padahal sebelumnya, pemerintah memproyeksikan, pertumbuhan di kisaran 0,5%-2,5%.

Setelah Singapura, Jerman juga sudah waspada. Pertumbuhan ekonomi Negeri Panser di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada tahun lalu, Jerman sudah nyaris mengalami resesi akibat perang dagang AS dengan China.

Selanjutnya Jepang, negara dengan nilai ekonomi terbesar ketiga di dunia, yang sudah dekat dengan resesi. Perekonomian Jepang berkontraksi tajam di kuartal IV-2019, bahkan menjadi yang terdalam sejak 6 tahun terakhir. Data dari Cabinet Office menunjukkan produk domestic bruto (PBD) kuartal IV-2019 berkontraksi 1,6% quarter-on-quarter (QoQ), menjadi yang terdalam sejak kuartal II-2014.


Equity World

 

Investor Lari ke Pelukan Dolar AS, Bursa Saham Asia Jatuh | Equity World


Sementara itu raksasa teknologi asal AS, Apple Inc. menyatakan pendapatan di kuartal II tahun fiskal 2020 akan lebih rendah dari prediksi sebelumnya akibat wabah Covid-19, yang menyebabkan gangguan suplai serta penurunan penjualan di China. Apple sebelumnya memberikan prediksi penjualan bersih akan mencapai US$ 63 miliar sampai US$ 67 miliar.

Apple Inc. merupakan perusahaan dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$ 1,3 triliun. Sebagai perbandingan nilai perekonomian Indonesia di tahun 2018 sebesar US$ 1,042 triliun, masih di bawah kapitalisasi pasar Apple. Di tahun yang sama, nilai ekonomi AS sebagai yang terbesar di dunia sebesar US$ 20,5 triliun, itu artinya kapitalisasi pasar perusahaan pembuat iPhone ini sekitar 6,3% dari nilai ekonomi AS.

Equity World | Bursa Saham Asia Belum Pulih dari Sengatan Virus Corona

Equity World | Bursa Saham Asia Belum Pulih dari Sengatan Virus Corona

Equity World | Sebagian besar bursa saham di Asia dibuka mengalami koreksi hari ini (18/2), bahkan ketika wabah virus corona tampak melambat. Ekonomi memprediksi pertumbuhan negara-negara di Asia tetap lesu terlepas dari penangkalan virus corona.

Produk domestik bruto kuartal pertama Cina turun sebesar 2,5% dari kuartal keempat 2019, setelah adanya pelambatan aktifitas ekonomi yang disebabkan oleh virus corona. Capital Economics (CE) memperkirakan dan memperingatkan bahwa ‘shutdown’ yang berkepanjangan dapat menjadi tanda hilangnya produksi.

Dilansir dari Market Watch News, gangguan ekonomi Cina mulai menyebar ke perekonomian negara tetangga melalui rantai pasokan. CE mencatat bahwa impor Korea selama sepuluh hari pertama di bulan ini turun hampir 50% per tahun.

Angka itu merupakan penurunan terbesar sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1997, dan lebih besar dari penurunan yang dialami pada puncak krisis keuangan global. Mata uang Asia juga jatuh terhadap dolar di tengah kekhawatiran atas dampak ekonomi dari wabah virus corona.

Equity World


IHSG Reli ke 5.886, Pasar Saham Asia Terkoreksi Akibat Corona | Equity World


CE mengatakan investor harus berhati-hati bahwa akan lebih banyak risiko dari jatuhnya nilai mata uang di Asia. Contoh lain dari dampak ekonomi yang diakibatkan oleh ketakutan terhadap virus corona antara lain, acara internasional terbesar bidang industri, Auto China 2020.

Pameran kendaraan mobil mewah tersebut dijadwalkan pada 21-30 April di Beijing. Adapun pameran itu dapat meningkatkan pertumbuhan penjualan mereka seperti mobil besar, truk, dan kendaraan mewah.

Equity World | Risiko Resesi Meninggi, Bursa Saham Asia Tak Bergigi

Equity World | Risiko Resesi Meninggi, Bursa Saham Asia Tak Bergigi

Equity World | Bursa saham utama Asia bergerak melemah di perdagangan pagi ini. Risiko resesi yang membesar gara-gara penyebaran virus Corona membuat investor menjaga jarak dengan aset-aset berisiko.

Pada Senin (17/2/2019) pukul 08:21 WIB, indeks Topix di Jepang amblas 1,32% ke 1.680.34. Kemudian Kospi (Korea Selatan) terkoreksi 0,35% menjadi 2.235,74. Straits Times di Singapura melemah 0,3% ke 3.210,46.

Sepertinya kekhawatiran yang diakibatkan virus Corona semakin menjadi-jadi. Mengutip data satelit pemetaan ArcGis per pukul 07:43 WIB, jumlah kasus Corona di seluruh dunia memang bertambah menjadi 71.279. Korban jiwa juga meningkat menjadi 1.773 orang.

Penyebaran virus Corona membuat aktivitas ekonomi menjadi terbatas. Dihantui virus mematikan, masyarakat dan dunia usaha tentu sebisa mungkin menghindari aktivitas di luar rumah. Akibatnya, roda perekonomian tidak mampu melaju kencang.


Equity World

 

Perusahaan Indonesia Melantai di Bursa Saham Wall Street, New York | Equity World


Ini terjadi terutama di China, episentrum dari virus Corona. Di China, orang-orang yang baru kembali ke Beijing setelah pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru Imlek tidak boleh pergi ke mana-mana.

"Mulai sekarang, semua orang yang kembali dari Beijing harus tetap di rumah atau melapor ke kelompok observasi selama 14 hari setelah kedatangan. Barang siapa yang melanggar akan diberikan sanksi sesuai aturan hukum yang berlaku," sebut pengumuman Beijing Virus Prevention Working Group, sebagaimana diberitakan Reuters.

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi China hampir pasti melambat. Reuters melakukan jajak pendapat terhadap 40 ekonom yang hasilnya pertumbuhan ekonomi China kuartal I-2019 diperkirakan sebesar 4,5%. Jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 6%.

Untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020, proyeksinya adalah 5,5%. Juga jauh melambat dibandingkan realisasi 2019 yang sebesar 6,1%.

PT Equityworld | Kasus Corona Bikin Kejutan, Wall Street Dibuka Melemah

PT Equityworld | Kasus Corona Bikin Kejutan, Wall Street Dibuka Melemah

PT Equityworld | Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka terpelanting pada Kamis (13/2/2020) menyusul lonjakan kasus corona dalam skala yang di luar dugaan hingga memunculkan kembali kekhawatiran seputar efeknya terhadap ekonomi.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 167 poin (-0,6%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), tetapi surut menjadi 115 poin (-0,4%) selang 20 menit kemudian ke 29.437,9. Indeks Nasdaq tertekan 40,2 poin (-0,4%) ke 9.685,3 dan S&P 500 minus 9,7 poin (-0,3%) ke 3.369,1.

China melaporkan adanya 15.152 kasus baru virus Corona, dengan korban jiwa tambahan sebanyak 254 orang. Total, angka kematian akibat virus asal Wuhan tersebut mencapai 1.367 orang dan nyaris 60.000 orang terinfeksi.

Dalam penjelasannya, otoritas China mengatakan kenaikan itu terkait dengan perubahan tabulasi jumlah penderita virus corona. Kini semua individu yang secara 'klinis terdiagnosa' sudah dimasukkan ke dalam kategori 'terkonfirmasi'.

"Reakselerasi tajam infeksi korona yang tiba-tiba di China membuat investor mengukur ulang risiko mereka," tutur Alec Young, Managing Director FTSE Russell, sebagaimana dikutip CNBC International.


PT Equityworld

 

Bursa Saham Asia Tergelincir, di Tengah Hiruk Pikuk Corona | PT Equityworld


Menurut dia, China dan perusahaan yang terkait dengan perjalanan menjadi yang paling rentan kena imbas ekonomi. Namun, selama dampak terhadap ekonomi AS masih terbatas maka bursa saham akan relatif kebal. Sebaliknya jika AS tertembus, maka volatilitas akan naik signifikan.

Cisco Systems menjadi saham yang berkinerja terburuk di antara konstituen Dow Jones, dengan anjlok 5,1%. Koreksi terjadi setelah perseroan mencatatkan penurunan pendapatan secara keseluruhan. Pada kuartal keempat, pendapatan Cisco anjlok 4% secara tahunan.

Sementara itu, Nike, Apple dan Microsoft terkoreksi rata-rata -0,8%. Saham PepsiCo dan Alibaba juga terkoreksi, masing-masing sebesar 0,5% dan 1,9%, meski melaporkan kinerja kuartalan yang lebih baik dari ekspektasi. Di sisi lain, saham Tesla anjlok lebih dari 2% setelah perseroan melaporkan rencana penawaran saham kedua senilai US$ 2 miliar.

Pelaku pasar tak banyak merespons positif angka klaim pengangguran mingguan, meski masih di level rendah. Di sisi lain, Indeks Harga Konsumen (IHK) AS per Januari naik 2,5% secara tahunan.

Equity World | Wall Street dibuka dengan penguatan ke rekor tertinggi pada Rabu (12/2)

Equity World | Wall Street dibuka dengan penguatan ke rekor tertinggi pada Rabu (12/2)

Equity World | Wall Street dibuka dengan penguatan ke rekor tertinggi pada Rabu (12/2). Tanda-tanda perlambatan penyebaran virus corona di China menjadi salah satu penopang penguatan pasar saham hari ini.

Rabu (12/2) pukul 22.22 WIB, Dow Jones Industrial Average naik 0,75% ke 29.492. Indeks S&P 500 menguat 0,41% ke 3.371. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,41% ke 9.677.

China mengumumkan bahwa kasus baru virus corona Covid-19 yang terdeteksi Selasa mencapai level terendah sejak 30 Januari. Meski demikian, WHO mengingatkan bahwa penyebaran virus corona di luar China masih bisa terjadi.


Equity World

 

Wall Street Cetak Rekor, IHSG Melaju di Zona Hijau | Equity World


"Jika Anda melihat indeks saham dan aset berisiko lainnya, tampaknya investor yakin bahwa situasi virus corona akan membaik," kata Francois Savary, chief investment officer Prime Partners kepada Reuters.

Banyak analis masih berhati-hati terhadap dampak virus corona terhadap ekonomi. Sejumlah perusahaan di China melaporkan pemangkasan pekerja karena gangguan rantai pasok manufaktur.

Di sisi lain, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell kemarin mengatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) dalam kondisi kuat. Dia pun memonitor virus corona yang bisa memicu gangguan yang memengaruhi ekonomi global.