Equity World | Wall Street ditutup lebih tinggi

Equity World | Wall Street ditutup lebih tinggi

Equity World | Wall Street menokok lebih tinggi disokong oleh Facebook, Amazon dan Apple, ketika mana pelabur menunggu mesyuarat Rizab Persekutuan yang dijangka menggariskan dasar bagi pemotongan kadar faedah lewat tahun ini.

Bank pusat Amerika Syarikat (AS) itu dijangka mengekalkan kos pinjaman tidak berubah pada mesyuarat dasar dua hari bermula Selasa, tetapi kenyataannya akan memberi gambaran berhubung kesan perang perdagangan AS-China, gesaan Presiden Donald Trump untuk pengurangan kadar faedah dan data ekonomi yang lebih lemah.

Dengan pelabur menjangkakan penurunan kadar faedah pada awal Julai, indeks S&P 500 meningkat lima peratus bulan ini selepas jatuh pada Mei disebabkan kebimbangan perang perdagangan AS-China.

Jawatankuasa penetapan kadar faedah Rizab Persekutuan akan mengeluarkan kenyataan pada 2 petang waktu New York (1800 GMT) Rabu, dengan Ketua Rizab Persekutuan, Jerome Powell, mengadakan sidang akhbar sejurus selepasnya.


Equity World


Kepercayaan Terhadap The Fed Dorong Penguatan Wall Street | Equity World

 

Dow Jones Industrial Average ditutup 0.09 peratus lebih tinggi pada 26,112.53 mata.

S&P 500 juga naik 0.09 peratus untuk ditutup pada 2,889.67.

Nasdaq Composite menambah 0.62 peratus kepada 7,845.02.

Sejumlah 5.67 bilion saham bertukar tangan berbanding 6.77 bilion purata 20 hari dagangan sebelumnya.

Equity World | Awal Pekan Emas Global dan Antam Kompak Loyo

Equity World | Awal Pekan Emas Global dan Antam Kompak Loyo

Equity World | Harga emas internasional melemah pada perdagangan Senin pagi setelah mencapai level tertingginya selama 14 bulan terakhir. Hal ini disebabkan data penjualan ritel AS yang memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia.

Dilansir dari CNBC, pada Senin 17 Juni 2019, harga emas di pasar spot turun 0,2 persen ke level US$1.338,97 per ons. Sementara itu, emas berjangka AS melemah 0,3 persen ke level US$1.340,2 per ons.

Penjualan ritel AS meningkat pada Mei dan penjualan untuk bulan sebelumnya direvisi lebih tinggi, menunjukkan kenaikan belanja konsumen yang dapat meredakan kekhawatiran ekonomi melambat tajam pada kuartal II.

Emas Domestik

Di dalam negeri, harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam, Senin 17 Juni 2019, dibanderol seharga Rp679 ribu per gram. Harga itu turun Rp2.000 per gram dibandingkan perdagangan akhir pekan lalu.

Dikutip dari data Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, pembelian kembali atau buyback ditetapkan seharga Rp608 ribu per gram atau turun Rp2.000 per gram dibandingkan perdagangan akhir pekan lalu.

Equity World


Harga Jual Emas Antam Turun ke Rp 679.000 Per Gram | Equity World

 

Adapun harga emas berdasarkan ukuran di antaranya, emas lima gram Rp3,21 juta, 10 gram Rp6,36 juta, 25 gram Rp15,8 juta, dan 50 gram Rp31,53 juta. Kemudian, emas 100 gram dibanderol Rp63 juta, 250 gram Rp157,25 juta, dan emas 500 gram Rp314,3 juta.

Dan, untuk ukuran emas terkecil dan terbesar yang dijual Antam pada hari ini, yaitu 0,5 gram dibanderol Rp364 ribu dan 1.000 gram sebesar Rp628,6 juta.

Selanjutnya, produk Batik all series, ukuran 10 gram dan 20 gram dipatok masing-masing Rp7,03 juta dan Rp13,51 juta.

Adapun untuk pembelian emas hari ini, Antam mencatat untuk ukuran 0,5 gram, satu gram, dua gram, 25 gram, 250 gram, 500 gram dan 1.000 gram hanya tersedia di butik logam mulia.

Equityworld Futures | Investor asing beralih dari saham ke obligasi Asia di bulan Mei

Equityworld Futures | Investor asing beralih dari saham ke obligasi Asia di bulan Mei

Equityworld Futures | Ketika terjadi aksi jual di pasar saham Asia, investor asing mengalihkan dana ke pasar obligasi yang makin menarik dengan kenaikan harga dan penurunan imbal hasil. Instrumen obligasi pun menawarkan risiko yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pasar saham di tengah perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, Brexit, dan perlambatan ekonomi global.

Menurut catatan Reuters, investor asing membeli bersih US$ 4,61 miliar obligasi sejumlah negara Asia pada bulan Mei setelah adanya aksi jual sebesar US$ 3,64 miliar di bulan April. Ini adalah kumpulan data dari asosiasi pasar obligasi dan perbankan di Malaysia, Thailand, Indonesia, Korea Selatan, dan India.

Terence Wu, currency strategist Bank OCBC mengatakan bahwa ada kenaikan peralihan risiko di Asia dalam empat hingga enam pekan. "Yang terjadi adalah investor menarik dana dari pasar saham yang cenderung berisiko ke obligasi Asia," kata Wu seperti dikutip Reuters.

Analis mengatakan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi di Asia akan memicu sejumlah bank sentral untuk memangkas kebijakan suku bunga. Hal ini bisa memacu permintaan di pasar obligasi sebelum bunga turun.

Ada pula ekspektasi bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan menurunkan suku bunga di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi AS dan jumlah penambahan tenaga kerja yang menurun di bulan Mei.

Tahun lalu, kebijakan pengetatan berupa kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate hingga empat kali menyebabkan penarikan dana yang agresif di instrumen obligasi Asia. Wu menambahkan bahwa akan lebih mudah bagi bank-bank sentral Asia untuk memangkas suku bunga jika The Fed memangkas bunga.

Hal ini menyebabkan spread alias selisih suku bunga antara AS dan Asia terjaga.


Equityworld Futures

 

Perang Dagang AS-China Makin Panas, Bursa Saham Asia Jatuh | Equityworld Futures

 

Aliran dana investor asing di pasar obligasi Korea Selatan bulan Mei mencapai US$ 5,97 miliar. Ini adalah angka terbesar dalam lebih dari 10 tahun. Investor memperkirakan Bank of Korea akan menurunkan suku bunga untuk menopang pertumbuhan ekonomi negara yang memiliki paparan ekspor impor besar ini.

Sementara aliran dana masuk ke pasar obligasi Thailand mencapai US$ 257 juta. Ini adalah aliran dana masuk pertama dalam lima bulan terakhir. Investor mulai masuk ke pasar Thailand setelah pemilihan umum. "Setelah kondisi politik jelas, premi risiko Thailand mulai mengecil dan arus dana keluar dalam beberapa bulan terakhir berbalik," kata Duncan Tan, strategist DBS Bank dalam catatan yang dikutip Reuters.

Investor asing pun mengakumulasi obligasi India setelah pemilihan umum membuka jalan kemenangan Perdana Menteri Narendra Modi. Sementara Malaysia dan Indonesia mencatat aliran dana keluar di bulan lalu.

 

Equity World | Wall Street Istirahat Sejenak Setelah Reli

Equity World | Wall Street Istirahat Sejenak Setelah Reli

Equity World | Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah tipis, Selasa (11/6/2019), setelah mencatatkan reli yang kuat sepanjang awal Juni.

Dow Jones Industrial Average melemah 0,05%, S&P 500 terkoreksi 0,04%, sementara Nasdaq Composite turun tipis 0,01% di akhir perdagangan.

Dow Jones mengakhiri penguatan selama enam hari beruntunnya namun S&P 500 masih 2,4% di bawah rekor perdagangan tengah hari yang pernah dicatatnya, dilansir dari CNBC International.


Indeks-indeks saham tersebut sempat melesat naik di awal perdagangan karena sentimen positif dari penundaan pengenaan bea impor Amerika Serikat (AS) terhadap Meksiko. Selain itu, harapan bahwa bank sentral Federal Reserve akan menurunkan bunga acuannya juga mendorong sentimen investor.

Presiden AS Donald Trump pada Minggu kemarin mengatakan bea impor 5% terhadap seluruh impor dari Meksiko akan dihentikan untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Ia menambahkan bahwa dirinya yakin sepenuhnya Meksiko akan mampu menghentikan aliran imigran dari Amerika Tengah.

Ini berarti dunia terhindar dari perang dagang AS-Meksiko ketika ketegangan dengan China masih berlanjut.


Equity World


Suku Bunga AS Bakal Turun, Harga Emas Stagnan | Equity World


Selain itu, pasar juga semakin yakin The Fed akan menurunkan suku bunganya. Ekspektasi pasar bahwa akan ada penurunan bunga acuan di Juli berada di sekitar 78%, menurut FedWatch dari CME Group.

Para investor juga mem-price in kemungkinan 97,1% penurunan bunga di Desember.

Ramalan ini muncul di tengah melemahnya data ekonomi AS. Pertumbuhan lapangan pekerjaan bulanan melambat menjadi hanya 75.000 di Mei, jauh di bawah perkiraan 180.000. Sementara itu, aktivitas manufaktur AS tumbuh di level terendah sejak 2016.

Equityworld Futures | Tarif Barang Meksiko Bebani Bursa Asia, IHSG Terlindungi PMI Manufaktur

Equityworld Futures | Tarif Barang Meksiko Bebani Bursa Asia, IHSG Terlindungi PMI Manufaktur

Equityworld Futures | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat hampir 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (31/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,92 persen atau 55,96 poin ke level 6.160,07 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (29/5), IHSG ditutup menanjak 1,18 persen atau 70,96 poin di level 6.104,11.

Indeks mulai melanjutkan penguatannya dengan dibuka naik 0,11 persen atau 6,41 poin di posisi 6.110,52. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.110,48 – 6.190,54.

Indeks Manufaktur Indonesia pada Mei 2019 naik ke posisi tertingginya dalam sembilan bulan. Data ini menunjukkan terus membaiknya kondisi bisnis yang dihadapi oleh pelaku manufaktur Indonesia pada pertengahan menuju triwulan kedua.

Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis Nikkei berada di level 51,6 pada Mei 2019, dibandingkan dengan realisasi pada April 2019 sebesar 50,4. Indeks di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur bergerak ekspansif, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Bernard Aw, Kepala Ekonom di IHS Markit, mengatakan kondisi permintaan yang semakin kuat mendorong kenaikan penumpukan pekerjaan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, sehingga menunjukkan bahwa perusahaan mungkin akan terus meningkatkan produksi pada bulan-bulan mendatang.

“Kenaikan yang berlanjut ini juga meningkatkan kepercayaan diri di antara pelaku manufaktur Indonesia,” paparnya, Kamis (31/5/2019).

Delapan dari sembilan sektor menetap di zona hijau, dipimpin sektor infrastruktur (+1,85 persen) dan finansial (+1,54 persen). Adapun sektor industri dasar turun 1,17 persen.

Sebanyak 240 saham menguat, 124 saham melemah, dan 269 saham stagnan dari 633 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing naik 3,05 persen dan 3,44 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG siang ini.

Namun, indeks saham lainnya di Asia bergerak cenderung tertekan. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,70 persen dan 0,85 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong turun tipis 0,19 persen pada pukul 11.40 WIB.

Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing naik tipis 0,01 persen dan 0,06 persen. Adapun indeks Kospi Korea Selatan naik 0,25 persen.

Dilansir Reuters, pasar saham global tergelincir setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan ancaman tarif terhadap terhadap Meksiko. Langkah ini berisiko menjungkalkan ekonomi Amerika Serikat, dan mungkin seluruh dunia, ke dalam resesi.

Pemerintah AS akan mengenakan tarif 5 persen mulai 10 Juni, yang secara bertahap terus meningkat menjadi 25 persen hingga imigrasi ilegal melintasi perbatasan selatan dihentikan. Hal ini diumumkan sendiri oleh Trump di Twitter pada Kamis (30/5/2019) malam waktu setempat.


Equityworld Futures


Trump akan kutip tarif impor barang dari Meksiko, saham produsen mobil Asia anjlok | Equityworld Futures


Sentimen pasar semakin keruh ketika data aktivitas manufaktur China untuk Mei terlihat mengecewakan, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas langkah-langkah stimulus pemerintah China.

“Trump telah memberi isyarat melalui Twitter pagi ini bahwa pola pikirnya bergeser semakin jauh dari mencapai kesepakatan perdagangan,” ujar Eleanor Creagh, pakar strategi di Saxo Capital Markets Australia.

“Tampaknya para pelaku pasar kini akhirnya menyadari bahwa narasi pemulihan pada paruh kedua 2019 menghilang dengan cepat. Karena meningkatnya ketegangan perdagangan di seluruh dunia menyebabkan ekspektasi pertumbuhan dikalibrasi ulang, risiko sentimen akan tetap ada dan volatilitas akan meningkat,” lanjutnya menjelaskan.

Equityworld Futures | Tarif Barang Meksiko Bebani Bursa Asia, IHSG Terlindungi PMI Manufaktur

Equityworld Futures | Tarif Barang Meksiko Bebani Bursa Asia, IHSG Terlindungi PMI Manufaktur

Equityworld Futures | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat hampir 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (31/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,92 persen atau 55,96 poin ke level 6.160,07 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (29/5), IHSG ditutup menanjak 1,18 persen atau 70,96 poin di level 6.104,11.

Indeks mulai melanjutkan penguatannya dengan dibuka naik 0,11 persen atau 6,41 poin di posisi 6.110,52. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.110,48 – 6.190,54.

Indeks Manufaktur Indonesia pada Mei 2019 naik ke posisi tertingginya dalam sembilan bulan. Data ini menunjukkan terus membaiknya kondisi bisnis yang dihadapi oleh pelaku manufaktur Indonesia pada pertengahan menuju triwulan kedua.

Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis Nikkei berada di level 51,6 pada Mei 2019, dibandingkan dengan realisasi pada April 2019 sebesar 50,4. Indeks di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur bergerak ekspansif, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Bernard Aw, Kepala Ekonom di IHS Markit, mengatakan kondisi permintaan yang semakin kuat mendorong kenaikan penumpukan pekerjaan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, sehingga menunjukkan bahwa perusahaan mungkin akan terus meningkatkan produksi pada bulan-bulan mendatang.

“Kenaikan yang berlanjut ini juga meningkatkan kepercayaan diri di antara pelaku manufaktur Indonesia,” paparnya, Kamis (31/5/2019).

Delapan dari sembilan sektor menetap di zona hijau, dipimpin sektor infrastruktur (+1,85 persen) dan finansial (+1,54 persen). Adapun sektor industri dasar turun 1,17 persen.

Sebanyak 240 saham menguat, 124 saham melemah, dan 269 saham stagnan dari 633 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing naik 3,05 persen dan 3,44 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG siang ini.

Namun, indeks saham lainnya di Asia bergerak cenderung tertekan. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,70 persen dan 0,85 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong turun tipis 0,19 persen pada pukul 11.40 WIB.

Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing naik tipis 0,01 persen dan 0,06 persen. Adapun indeks Kospi Korea Selatan naik 0,25 persen.

Dilansir Reuters, pasar saham global tergelincir setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan ancaman tarif terhadap terhadap Meksiko. Langkah ini berisiko menjungkalkan ekonomi Amerika Serikat, dan mungkin seluruh dunia, ke dalam resesi.

Pemerintah AS akan mengenakan tarif 5 persen mulai 10 Juni, yang secara bertahap terus meningkat menjadi 25 persen hingga imigrasi ilegal melintasi perbatasan selatan dihentikan. Hal ini diumumkan sendiri oleh Trump di Twitter pada Kamis (30/5/2019) malam waktu setempat.


Equityworld Futures


Trump akan kutip tarif impor barang dari Meksiko, saham produsen mobil Asia anjlok | Equityworld Futures


Sentimen pasar semakin keruh ketika data aktivitas manufaktur China untuk Mei terlihat mengecewakan, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas langkah-langkah stimulus pemerintah China.

“Trump telah memberi isyarat melalui Twitter pagi ini bahwa pola pikirnya bergeser semakin jauh dari mencapai kesepakatan perdagangan,” ujar Eleanor Creagh, pakar strategi di Saxo Capital Markets Australia.

“Tampaknya para pelaku pasar kini akhirnya menyadari bahwa narasi pemulihan pada paruh kedua 2019 menghilang dengan cepat. Karena meningkatnya ketegangan perdagangan di seluruh dunia menyebabkan ekspektasi pertumbuhan dikalibrasi ulang, risiko sentimen akan tetap ada dan volatilitas akan meningkat,” lanjutnya menjelaskan.

Equityworld Futures | Pergerakan IHSG Jelang Libur Panjang

Equityworld Futures | Pergerakan IHSG Jelang Libur Panjang

Equityworld Futures | Pergerakan IHSG jelang libur Lebaran 2019 (29/05) diperkirakan akan netral cenderung melemah meski tidak sedalam kemarin. VP Samuel Sekuritas, Muhamad Alfatih memperkirakan dalam 2 hari terakhir ini investor lebih berhati-hati mewaspadai pergerakan sentiment global sehingga volume transaksi cenderung tipis.


Equityworld Futures

 

Bursa Saham Asia Jeblok, Yen Jepang Kian Bersinar | Equityworld Futures


Selengkapnya saksikan dialog Maria Katarina dengan VP Samuel Sekuritas, Muhamad Alfatih dan Researcher CNBC Indonesia, Yazid Muamar dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Rabu, 29/05/2019)