Equity World | Pasca Rekonsiliasi, Ini Saham-saham Layak Beli versi Broker

Equity World | Pasca Rekonsiliasi, Ini Saham-saham Layak Beli versi Broker

Equity World | Dibuka menguat 0,55% ke level 6.408,31, tak sekalipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh zona merah pada perdagangan hari pertama di pekan ini, Senin (15/07/2019). IHSG mengarungi perdagangan awal pekan dengan ditutup melejit 0,7% ke level 6.418,23.

Kinerja IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga ditransaksikan di zona hijau: indeks Shanghai menguat 0,4%, dan indeks Hang Seng terparesiasi 0,29%.

Untuk perdagangan hari ini Selasa (16/7) sejumlah broker memiliki ide perdagangannya masing-masing dengan rekomendasi saham yang beragam dan layak disimak sebagai berikut.

1. Panin Sekuritas - Rekonsiliasi dan Surplus Dagang Bikin IHSG Mentereng
Terimbas sentimen rekonsiliasi dan surplus neraca perdagangan, IHSG berhasil membentuk golden cross pada chart mingguannya, dengan demikian IHSG sudah semakin kuat untuk melanjutkan penguatan jangka menengah.

Saham pilihan:

ACES
ADHI
PTPP
UNTR

2. KGI Sekuritas Indonesia - IHSG Bisa Tembus Resisten Berikutnya
Sentimen regional yang mulai positif memberikan angin segar untuk kaum banteng mencoba menguatkan kaki-kaki diatas level resistance lama 6.400 yang sekarang dicoba untuk dijadikan support baru, bila berhasil maka arah selanjutnya ke 6.500 semakin dipermudah.

Saham pilihan:

BMRI
BBTN
PGAS
INCO

Equity World

Gilak! Saham TRIO Melesat 752%, gegara IMEI atau Kinerja? | Equity World


3. Kresna Sekuritas - Market Masih Sideways
Market masih berhati-hati pada awal semester II-2019. Kami melihat potensi akan market cenderung sideways, dan volatilitas market baru bisa meningkat pra earning season kuartal kedua 2019.

Saham pilihan:

ANTM
EXCL
BMTR
WSBP


4. Artha Sekuritas - IHSG Overbought
Secara teknikal indikator stochastic membentuk deadcross di area overbought menunjukkan potensi pelemahan dalam jangka pendek. Kemungkinan akan ada aksi profit taking.

Saham pilihan:

JSMR
WIKA
BSDE
BBRI

Equity World | Angka PDB China Bikin Grogi, Bursa Saham Asia Melemah

Equity World | Angka PDB China Bikin Grogi, Bursa Saham Asia Melemah

Equity World | Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia mengawali perdagangan hari ini di zona merah: indeks Shanghai melemah 0,31%, indeks Hang Seng jatuh 0,59%, indeks Straits Times terkoreksi 0,07%, dan indeks Kospi berkurang 0,16%.

Pelaku pasar tampak grogi dalam menantikan rilis angka pertumbuhan ekonomi China yang dijadwalkan pada pukul 09:00 WIB hari ini. Konsensus yang dihimpun oleh Trading Economics memperkirakan pertumbuhan ekonomi Negeri Panda akan melambat menjadi 6,2% YoY pada kuartal II-2019, dari yang sebelumnya 6,4% YoY pada kuartal I-2019.

Selain angka pertumbuhan ekonomi, angka pertumbuhan produksi industri dan pertumbuhan penjualan barang-barang ritel periode Juni juga akan dirilis pada waktu yang sama.

Equity World

Bursa Asia Jatuh, Asing Malah Borong Saham di RI | Equity World

 

Rilis data tersebut akan dicermati oleh pelaku pasar lantaran menggambarkan seberapa besar perang dagang antara China dengan AS sudah menyakiti perekonomian China. Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk baru terhadap produk impor asal China senilai US$ 250 miliar, sementara China membalas dengan mengenakan bea masuk baru bagi produk impor asal AS senilai US$ 110 miliar.

Mengingat China merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua, tentulah tekanan terhadap perekonomian China akan berdampak negatif bagi negara-negara lainnya.

Equityworld Futures | Bursa Asia Kompak Menguat, Ini lho yang Buat IHSG Jatuh

Equityworld Futures | Bursa Asia Kompak Menguat, Ini lho yang Buat IHSG Jatuh

Equityworld Futures | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis ini (11/7/2019) dengan apresiasi sebesar 0,22% ke level 6.424,63.

IHSG kemudian menghabiskan mayoritas waktunya hingga tengah hari di zona hijau. Namun per akhir sesi satu, IHSG justru melemah 0,07% ke level 6.406,01.

Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam mendorong IHSG melemah di antaranya: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (-0,93%), PT Unilever Indonesia Tbk/UNVR (-1,11%), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk/CPIN (-3,49%), PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk/INKP (-3,14%), dan PT Semen Indonesia Tbk/SMGR (-1,99%).


Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang sedang ditransaksikan di zona hijau: indeks Nikkei naik 0,49%, indeks Shanghai menguat 0,33%, indeks Hang Seng melejit 1,19%, indeks Straits Times terapresiasi 0,76%, dan indeks Kospi melesat 1,21%.

Sentimen positif bagi bursa saham Benua Kuning datang dari rilis risalah (minutes of meeting) pertemuan The Federal Reserve (The Fed) edisi Juni 2019.

Melalui risalah ini, semakin terkonfirmasi bahwa The Fed memiliki intensi untuk memangkas tingkat suku bunga acuan dalam waktu dekat. Para pejabat bank sentral Negeri Paman Sam memandang bahwa pemangkasan tingkat suku bunga acuan perlu dieksekusi guna menjaga laju perekonomian.

"Beberapa anggota melihat bahwa pemangkasan federal funds rate dalam waktu dekat dapat membantu meminimalisir dampak dari guncangan terhadap ekonomi di masa depan," tulis risalah rapat The Fed, dilansir dari CNBC International.

Perang dagang antara AS dengan China menjadi faktor yang dianggap berpotensi membawa guncangan bagi perekonomian AS. Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk baru terhadap produk impor asal China senilai US$ 250 miliar, sementara China membalas dengan mengenakan bea masuk baru bagi produk impor asal AS senilai US$ 110 miliar.

"Para anggota secara umum setuju bahwa risiko terhadap prospek perekonomian telah meningkat semenjak pertemuan pada bulan Mei, utamanya risiko yang berkaitan dengan negosiasi dagang yang tengah berlangsung dan perlambatan ekonomi di negara-negara lain."

Lebih lanjut, testimoni Gubernur The Fed Jerome Powell semakin mengukuhkan optimisme bahwa tingkat suku bunga acuan akan segera dipangkas. Kemarin (10/7/2019) waktu setempat, Powell memberikan testimoni di hadapan House Financial Services Committee terkait laporan kebijakan moneter semi tahunan.

Dalam testimoninya, Powell menyebut bahwa investasi dari pelaku usaha di sana telah menunjukkan perlambatan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir seiring dengan ketidakpastian yang menyelimuti prospek perekonomian.

"Banyak anggota FOMC sebelumnya melihat bahwa urgensi untuk mengadopsi kebijakan moneter yang lebih akomodatif telah meningkat. Sejak saat itu, berdasarkan data yang dirilis dan berbagai perkembangan lainnya, nampak bahwa ketidakpastian terkait perang dagang dan kekhawatiran mengenai laju perekonomian dunia telah terus membebani prospek perekonomian AS."

Makin Yakin Bunga Acuan The Fed Turun, Bursa Asia Hijau | Equityworld Futures

 

Equityworld Futures


Di tengah perang dagang AS-China yang belum juga bisa diselesaikan, tentu pemangkasan tingkat suku bunga acuan, apalagi jika signifikan, merupakan opsi terbaik guna menyelamatkan perekonomian AS dari yang namanya hard landing.

Sebelumnya, Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan perekonomian AS tumbuh sebesar 2,5% pada tahun 2019, sebelum kemudian turun drastis menjadi 1,7% pada tahun 2020. Pada tahun 2018, perekonomian AS tumbuh hingga 2,9%, menandai laju pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2015 silam.

PT Equityworld | Mengekor Wall Street, Bursa Tokyo Dibuka Menguat

PT Equityworld | Mengekor Wall Street, Bursa Tokyo Dibuka Menguat

PT Equityworld | Bursa saham Tokyo dibuka menguat pada Kamis (11/7/2019). Bursa Negeri Sakura mengekor tren positif di Wall Street usai pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS di Washington DC, Rabu (10/7/2019) waktu setempat.

Dalam kesempatan itu, Powell memberi sinyal kuat bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan (Fed Funds Rate/FFR). Langkah itu sejalan dengan janji Powell bahwa The Fed akan bertindak sesuai dalam merespons dinamika perekonomian Negeri Paman Sam maupun global. Di mana saat ini ekspansi ekonomi AS terancam oleh perang dagang dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Seperti dilaporkan kantor berita AFP, indeks acuan Nikkei 225 naik 0,16% atau 34,71 poin pada 21.568,19 di awal perdagangan, sementara Indeks Topix naik 0,19% atau 3,02 poin pada 1.574,34.

Sebelumnya, Wall Street membukukan penguatan pada perdagangan Rabu (10/7/2019) waktu setempat. Sentimennya pun serupa, yaitu pernyataan Powell yang akan melonggarkan kebijakan moneter The Fed.

PT Equityworld


Bursa Saham Asia Mayoritas Naik Tipis | PT Equityworld

 

S&P 500 ditutup naik 0,5% ke level 2.993,07. Sementara itu Dow Jones Industrial Average naik 76,71 poin atau 0,3% ke level 26.860,20. Sedangkan Nasdaq berhasil mencetak rekor di 8.202,53. Salah satu faktor pendorong karena Amazon naik 1,5%, menembus nilai di atas $ 2.000 per saham. Emas berjangka menguat lebih dari 1%, sementara imbal hasil jangka pendek tergelincir.

Menurut analis di Bleakley Advisory Group, Powell sepenuhnya mendukung pemangkasan suku bunga acuan pada Juli dan sama sekali tidak melakukan apa pun untuk menarik kembali pasar dari harapan itu.

PT Equityworld | Investor Membeli Saham Internet Tiongkok Kata UBS dan Credit Suisse

PT Equityworld | Investor Membeli Saham Internet Tiongkok Kata UBS dan Credit Suisse

PT Equityworld | Investor Membeli Saham Internet Tiongkok Kata UBS dan Credit Suisse. Saham internet Tiongkok mungkin merupakan pembelian yang baik bagi investor, menurut bank investasi global UBS dan Credit Suisse.

Teknologi telah muncul sebagai medan pertempuran yang memanas dalam konflik perdagangan AS-Tiongkok yang sedang berlangsung karena kedua negara berusaha untuk mendominasi wilayah baru seperti 5G dan kecerdasan buatan. Di tengah-tengah itu, perusahaan internet Tiongkok telah melihat saham mereka tersandung. Namun, John Woods, kepala investasi Credit Suisse untuk Asia Pasifik, mengatakan sektor ini tampaknya merupakan pertaruhan yang solid.

“Internet pada dasarnya adalah kisah pertumbuhan struktural di Tiongkok. Kami tidak melihatnya berubah dalam waktu dekat, “Woods mengatakan kepada CNBC pada hari Selasa. “Itu dijual agresif dari pertengahan April. Jadi kami merasa ada sisi buruk di sektor khusus itu”. Penilaian itu juga diungkapkan oleh UBS Global Wealth Management dalam briefing di Singapura, Senin.

Tan Min Lan, kepala Kantor Investasi Asia Pasifik di UBS Global Wealth Management, mengatakan bahwa perusahaan internet Tiongkok menawarkan “prospek pembelian kembali saham yang solid” dan memiliki arus kas yang tinggi.

Meskipun perusahaan teknologi Tiongkok seperti Baidu, Tencent dan Alibaba telah terkena ketegangan perdagangan AS-Tiongkok, Woods menunjukkan bahwa mereka sebagian besar berfokus pada pasar domestik.

“Jelas kami ingin fokus pada nama-nama dan sektor-sektor dalam kelompok luas yang memiliki fokus domestik yang mendalam. Sebenarnya, saham internet memang memiliki fokus domestik yang luar biasa. Mereka tidak benar-benar berorientasi ekspor, ”kata Woods. “Mereka benar-benar fokus pada permainan konsumsi, layanan bermain dalam ekonomi domestik dan itulah yang ingin kita fokuskan”. UBS ’Tan juga menunjuk ke fokus domestik dari saham-saham itu sebagai kekuatan.

“Kami masih menyukai perangkat lunak dan layanan, dan kami menyukai internet karena sebagian besar pendapatan dihasilkan di dalam negeri,” katanya.

Dana yang diperdagangkan di bursa Internet Krane Shares CSI Tiongkok, yang melacak saham teknologi Tiongkok termasuk Baidu, Tencent dan Alibaba, jatuh pada Mei karena AS dan Tiongkok menaikkan tarif barang masing-masing, sebelum rebound sedikit dimulai pada Juni.


PT Equityworld


Euforia Diskon Pajak, Ini Jawara Emiten Industri Dasar | PT Equityworld


Drama saham lainnya di Tiongkok.

Di luar perusahaan internet, Woods menyoroti dua sektor lain di Tiongkok yang berkinerja baik: asuransi dan infrastruktur. Infrastruktur akan naik pada upaya pemerintah Tiongkok untuk merangsang ekonomi, katanya. Dengan pertumbuhan domestik yang melambat, Beijing telah meningkatkan pengeluaran fiskal, termasuk dalam proyek infrastruktur. Sedangkan untuk asuransi, sektor ini akan memanfaatkan tren penuaan di Tiongkok, kata Woods.

“Ini mencerminkan penuaan dramatis yang kita lihat sekarang di Tiongkok, kebutuhan akan asuransi, khususnya asuransi kesehatan,” katanya kepada CNBC.

Equity World | Saham Teknologi & Data Tenaga Kerja Bikin Wall Street Melemah

Equity World | Saham Teknologi & Data Tenaga Kerja Bikin Wall Street Melemah

Equity World | Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (9/7/2019) waktu setempat. Ada dua faktor yang menjadi penentu gerak Wall Street, yaitu saham teknologi dan sentimen jelang pidato Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu (10/7/2019) waktu setempat.

Dilansir CNBC International, Dow Jones Industrial Average melemah 115,98 poin, atau 0,4%, lebih rendah ke 26.806,14. Sementara S&P 500 turun 0,5% menjadi 2.975,95. Kemudian Nasdaq Composite melemah 0,8% menjadi 8.098,38.

Saham Apple anjlok lebih dari 2%. Salah seorang analis di Rosenblatt Securities menurunkan peringkat saham untuk menjual dari netral. Analis mengatakan perusahaan akan "menghadapi kemunduran mendasar selama 6 hingga 12 bulan ke depan" karena penjualan iPhone mengecewakan disertai melambatnya pertumbuhan produk lainnya.

Saham teknologi lainnya seperti NetApp dan Juniper Networks masing-masing turun lebih dari 3%. Applied Materials dan Lam Research juga anjlok lebih dari 1%. Saham teknologi telah menjadi penopang di Wall Street tahun ini. Sektor ini naik hampir 28% pada 2019, mengungguli S&P 500.

"Risiko sedang meningkat dalam saham teknologi, terutama saham dengan harga tinggi," tulis analis teknologi AB Bernstein Toni Sacconaghi.


Equity World

 

IHSG ditutup melemah seiring koreksi bursa saham Asia | Equity World


Wall Street menunggu pidato Powell. Ini setelah data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat lalu lebih solid sehingga menimbulkan pertanyaan tentang apakah Fed akan menurunkan suku bunganya akhir bulan ini.

"Data ketenagakerjaan pada Jumat mengejutkan pasar. Itu menghambat prospek The Fed," kata Peter Cardillo, analis Spartan Capital Securities.

The Fed bulan lalu membuka pintu untuk suku bunga yang lebih rendah setelah mengatakan akan "bertindak sesuai" untuk mempertahankan ekspansi ekonomi AS saat ini.

Equity World | Saham Teknologi & Data Tenaga Kerja Bikin Wall Street Melemah

Equity World | Saham Teknologi & Data Tenaga Kerja Bikin Wall Street Melemah

Equity World | Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Senin (9/7/2019) waktu setempat. Ada dua faktor yang menjadi penentu gerak Wall Street, yaitu saham teknologi dan sentimen jelang pidato Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu (10/7/2019) waktu setempat.

Dilansir CNBC International, Dow Jones Industrial Average melemah 115,98 poin, atau 0,4%, lebih rendah ke 26.806,14. Sementara S&P 500 turun 0,5% menjadi 2.975,95. Kemudian Nasdaq Composite melemah 0,8% menjadi 8.098,38.

Saham Apple anjlok lebih dari 2%. Salah seorang analis di Rosenblatt Securities menurunkan peringkat saham untuk menjual dari netral. Analis mengatakan perusahaan akan "menghadapi kemunduran mendasar selama 6 hingga 12 bulan ke depan" karena penjualan iPhone mengecewakan disertai melambatnya pertumbuhan produk lainnya.

Saham teknologi lainnya seperti NetApp dan Juniper Networks masing-masing turun lebih dari 3%. Applied Materials dan Lam Research juga anjlok lebih dari 1%. Saham teknologi telah menjadi penopang di Wall Street tahun ini. Sektor ini naik hampir 28% pada 2019, mengungguli S&P 500.

"Risiko sedang meningkat dalam saham teknologi, terutama saham dengan harga tinggi," tulis analis teknologi AB Bernstein Toni Sacconaghi.


Equity World

 

IHSG ditutup melemah seiring koreksi bursa saham Asia | Equity World


Wall Street menunggu pidato Powell. Ini setelah data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat lalu lebih solid sehingga menimbulkan pertanyaan tentang apakah Fed akan menurunkan suku bunganya akhir bulan ini.

"Data ketenagakerjaan pada Jumat mengejutkan pasar. Itu menghambat prospek The Fed," kata Peter Cardillo, analis Spartan Capital Securities.

The Fed bulan lalu membuka pintu untuk suku bunga yang lebih rendah setelah mengatakan akan "bertindak sesuai" untuk mempertahankan ekspansi ekonomi AS saat ini.